Sabtu, Juni 13, 2009

Dajjal




DAJJAL Sudah ada di Sebuah Pulau

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais ra, “beri aku sebuah hadist yang kamu dengar dari Rasulullah SAW, yang tidak kamu sandarkan selain kepada beliau. “Fathimah mengatakan,”Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,”jawab Asy-Sya’bi.

Fathimah pun berkisah: “......Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah saw., menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah. Akupun keluar menuju masjid lantas sholat bersama Rasulullah. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah saw selesai dari sholatnya maka beliau duduk di mimbar seraya mengatakan,”hendaknya setiap orang tetap di tempat sholatnya.’Kemudian kembali berkata ,’apakah kalian tahu kenapa aku kumpulkan? Para sahabat menjawab : ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu’. Nabi SAW melanjutkan , ‘sesungguhnya demi Allah, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang nasrani lalu ia datang. Kemudian berbai’at dan masuk islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al Masih Ad-Dajjal.

Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya.

Mereka pun bertanya: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara) menjawab : ‘aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan : ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada di rumah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan : ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan : ‘Maka kami pun bergerak cepat menuju kepadanya sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan : ‘celaka kamu, apa kamu ini?’

Ia menjawab : ‘ kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab : kami ini orang-orang arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan.lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lali memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya...Kami tidak merasa aman kalau ternyata di setan.’

Lalu orang itu mengatakan : ‘kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan’

Kami mengatakan: ‘ Tentang apanya engkau meminta beritanya?’

Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya. Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya’

Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah

Kami jawab: ‘ Tentang apanya engkau meminta beritanya?’

‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.

Mereka menjawab: ‘ Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar I.’

Mereka mengatakan: ‘Tentang apa kamu minta berita?’

Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.

Kami mengatakan: ‘ Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’

Ia mengatakan: ‘ Kabarkan kepadaku tentang nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’ Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’

Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang arab memeranginya?’

Kami menjawab: ‘Ya’

Ia mengatakan: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.

Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’

Kami katakan: ‘Ya’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku. Sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak aku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram.

Sumber : Majalah Hadila


Jumat, Juni 12, 2009

CERMIN HATI

Khalifah Gila?

Memang betul, khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatannya. Banyak yang melihat dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperikemanusiaan. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa. Yang lebih mengejutkan lagi ketika sedang berkhutbah Jum’at, sekonyong-konyong Umar berseru, “Hai Sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Jamaah geger. Sebab ucapan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan. Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah , ia harus tau betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka ditanyailah Umar, “wahai amirul mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?” Umar menjelaskan, “Begini sahabatku. Beberapa pekan yang lalu aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu, bukit itu, bukit itu! :setengah tidak percaya, Abdurrahman mengerutkan kening. “Lalu, mengapa engkau duli menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan sholst fardhu?” tanya Abdurrahman pula.

Umar menjawab, “aku menangis kalau teringat kebiadabanku pada islam. Aku pernah mengubur anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung-patung dari tepung gandum dan kusembah-sembah seperti Tuhan, bila lapar aku makan ‘Tuhan’ ku itu”. Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Umar. Ia belum boleh menilai, sejauh mana kebenaran ucapan umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidak warasannya sehingga jawabannya juga kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang teramat jauh dari masjid tempatnya berkhutbah? Akhirnya bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu ketika Sariah yang dikirim Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Komandan pasukan itu bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami, “kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari segala penjuru. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris habis terkuras. Sampai tibalah waktu sholat Jum’at yang seharusnya kami kerjakan. Persis kalai itu kami mendengar sebuah seruan ghaib yang tajam dan tegas: “Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” tiga kali seruan tersebut diulang-ulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kamipun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai bentengdi bagian belakang. Dengan demikian kami dapat melawan seranga musuh dari satu arah yaitu depan. Itulah awal kejayaan kami. “Abdurrahman mengangguk-angguk dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh umar berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, “ Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melihatnya

Sumber : Majalah Hadila